Episode 11 : Ada Rahasia Di Rumah Tua -Enie Handyas
File Box
A place to keep millions of files in my mind. -beauty, anomaly, curiosity-
Thursday, 21 January 2016
Story Blog Tour: Case Closed!
Episode 11 : Ada Rahasia Di Rumah Tua -Enie Handyas
Wednesday, 30 December 2015
Keakuanku, pada sebuah rasa.
Dan satu hal yang tak bisa kubantah: aku betah berada di dekatmu!
Alunan nada yang tercipta
Menyiratkan rona semu yang seketika hadir.
Tak pernah terpikir juga kamu akan menjadi salah satu alasan bahagiaku.
Semua berjalan tanpa rekayasa.
Seperti ketika rasa ini mengetuk pintu hati, tanpa tanda tanya, tanpa syarat.
Ketika bayangmu hilang dan memaksaku diam.
Maaf atas setiap silap kata yang kuucap.
Maaf atas setiap salah sikap yang kuperbuat.
Aku tidak akan pernah menjadi yang terbaik.
Tapi selalu berusaha menjadi lebih baik.
Dan kini, aku ingin meyakini, hatiku masih terpaut padamu.
Jadi, izinkan aku menyimpannya.
Menetapkan rasa yang tak ingin kamu tahu.
Biarkan aku mempedulikanmu, tanpa merasa menjadi yang paling peduli.
Biarkan aku menyayangimu, tanpa merasa menjadi yang paling tulus.
Hingga ia menjelma menjadi sebuah cinta.
Karena cinta tidak butuh alasan, bukan?
Friday, 18 December 2015
Rindu, rasa, dan cinta
Ketika sekeping rindu hadir
Hanya berharap tatap
Yang mungkin cukup untuk mengobati sakit karena menahannya
Ketika sebongkah rasa tercipta
Hanya berharap dekap hangat
Yang mungkin cukup untuk menguatkan saat diri lemah karenanya
Dan ketika setitik cinta tersirat
Hanya dapat berpilin doa
Yang mungkin dapat menjaganya
Hingga Tuhan berkenan menyuratkannya
-FRD-
18.12.15
Sunday, 15 November 2015
Tanpa titik
Ini caraku berteman denganmu,
Menjadi pendengar setia atas kisah dan keluh kesahmu
Menjadi pelukis senyum ketika muram menghampirimu
Menjadi pendorong semangatmu saat lelah singgah padamu
Ini caraku peduli padamu,
Mengingatkan hal-hal kecil yang sering kali kamu lupa
Memperhatikan hal-hal kecil yang sering kali kamu lewatkan
Menegurmu atas kesalahan kecil yang kamu lakukan
Ini caraku menyayangimu,
Menyelipkan semua tentangmu diantara percakapanku dengan Sang Pemilik Hati
Dan ini, caraku mencintaimu
Tanpa tanda tanya, tanpa titik
-FRD-
15.11.15
Thursday, 3 September 2015
[FlashFiction] Harapan Baru
Tempat ini asing bagiku. Tiba-tiba saja aku terbangun di tempat yang sama sekali tidak aku tahu. Aku linglung, kebingungan. Hanya hamparan rerumputan yg aku lihat sepanjang mata memandang.
Aku mencoba berdiri, menuju sisi jalan yang terlihat memberiku harapan. Harapan untuk pulang. Kutelusuri jalan setapak ini. Seperti tak berujung. Beberapa kali lelah menghampiri dan pandangan mata sudah jemu melihat gurun hijau ini.
Ketika aku terpekur ditengah perjalanan, tiba-tiba mataku menangkap beberapa warna putih diujung jalan sana. Dan.... Sebuah kotak berwarna merah. Aku memicingkan mata dan bergerak maju kearahnya. Untuk memastikan bahwa yang kulihat adalah harapan baru, bukan sekedar oase.
"T-E-L-E-P-H-O-N-E." Aku mengeja tulisan diatas kotak itu yang membuat senyumku langsung terkembang.
Aku masuk kedalamnya untuk memastikan masih berfungsi atau tidak. Sebuah telepon tua bertengger disana. Aku merogoh kantung celanaku yang kotor. Berharap menemukan sebuah koin disana.
Kumasukan koin itu dan kuputar nomer yang sangat kuhafal.
"Halo... " sapa seseorang diseberang.
"Aku ingin pulang," ucapku lirih.
Tidak ada balasan darinya.
"Tolong beri aku satu kesempatan lagi. Izinkan aku pulang," lanjutku.
"Tidak, Mas. Tidak ada lagi tempatmu untuk pulang."
"Tidak bisakah kamu memaafkan aku dan beri aku satu kesempatan lagi? Aku benar-benar menyesal. Aku berjanji akan berubah. Saat ini aku hanya ingin pulang, bertemu denganmu. Aku tidak ingin kehilanganmu."
Hanya terdengar isak dari seberang sana.
Aku menundukkan kepala. Menunggunya bersuara. Aku hanya bisa berharap, ada harapan baru dari seberang sana.
Mataku pun mulai basah mendengar isak tangisnya yang semakin menjadi.
"Kembalilah, Mas. Aku menunggumu pulang," jawabnya lirih.
Senyumku pun terkembang. Di dalam kotak merah ini kutemukan harapan baru.
-FRD-
04.08.2015
[Fiction] Twinny
"Punya saudara kembar seru kali, ya. Sesekali bisa tukeran posisi tanpa orang tahu. Tapi lo pasti nggak bisa gitu kan, Sha?" celetuk temanku suatu waktu. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Tidak ingin membuyarkan khayalannya untuk mempunyai saudara kembar.
"Sha, ayo pulang." Dan laki-laki itu baru saja membuyarkan khayalan teman disebelahku ini.
Setelah berpamitan dengannya, aku melenggang pergi dengan motor sport yang dikendarai laki-laki itu.
Dia, laki-laki popoler yang menjadi idaman para wanita di kampus. Aku, wanita yang membuat iri wanita lain karena aku bisa dekat dengannya. Kami sudah dekat dan selalu bersama sejak kami belum dilahirkan.
Ya, kami adalah saudara kembar. Tapi aku tidak pernah merasa mempunyainya.
Ezra, saudara kembarku itu lahir dua menit lebih awal sebelum aku lahir. Kami bukan kembar identik, dan jenis kelamin kami juga berbeda. Sejak kecil pun orang tua kami tidak memperlakukan kami seperti anak kembar yang apa-apa harus sama. Itulah sebabnya aku berkata begitu.
Hanya segelintir teman-teman kampus yang tahu kami kembar. Bukan kami bermaksud menutupi identitas kami. Hanya saja kami malas mengumumkan kalau kami ini kembar. Aku dan Ezra berbeda fakultas. Makanya kami jarang terlihat bersama di kampus. Ezra yang seorang ketua BEM dan penyiar radio kampus, membuat siapa saja wanita yang dekat dengannya akan menjadi perhatian. Jika dia sedang sendiri, dia pasti akan pergi denganku.
Aku hanya akan memberitahu tentang kami jika ada yang bertanya padaku seperti ini, "Kalo diperhatiin, lo mirip deh sama Ezra, kalian kembar, ya?" Itu artinya dia orang yang peka.
Atau jika ada yang bertanya pada Ezra seperti ini, "Lo sama Eisha kayak anak kembar. Mirip tahu! Apa karena kalian sering jalan bareng?" Nah, biasanya yang bertanya begitu adalah wanita yang iri denganku. Sisanya, akan berkata seperti ini, "Kalian mirip deh, jangan-jangan kalian berjodoh (?)" Kalau itu hanya menjadi bahan tertawaan kami saja.
Ya, kami memang jarang memakai baju yang sama, tidak mempunyai barang-barang yang sama, dan tidak bisa bertukar posisi tanpa orang tahu seperti yang dikhayalkan temanku itu. Tapi kami bahagia karena saling mengerti tanpa harus berkata.
Kami bahagia karena saling memahami tanpa harus bercerita.
Dan kami bahagia karena saling memiliki.
-FRD-
Tuesday, 18 August 2015
Kombinasi sempurna
Aroma uap yang mengepul dari segelas kopi yang tersaji di mejamu.
Manis. Renyah.
Juga aroma tanah basah yang tercium saat gerimis tiba-tiba turun.
Aroma yang kamu sukai.
Aku tidak pernah menyukai rasa itu.
Berbagai macam rasa yang hadir dalam tegukan pertamamu.
Manis, katamu.
Dan tentu saja pahit yang tidak bisa terelakkan.
Juga rasa senang saat kamu membiarkan gerimis membasahimu.
Menenangkan, katamu.
Dan tentu saja gelisah yang juga mampir.
Hujan dan kopi.
Kombinasi sempurna kebahagiaan, bagimu.
Kombinasi sempurna sebuah elegi, bagiku.
Aku bukan pecinta hujan, juga bukan penikmat kopi.
Aku memang tidak pernah menyukai aroma dan rasa itu.
Tapi aku, pernah meyukaimu.