Thursday, 21 January 2016

Story Blog Tour: Case Closed!

Belasan tahun silam, kebahagiaan sedang meliputi dua sejoli yang sudah 5 tahun membangun rumah tangga. Bagaimana tidak, kehadiran janin yang selalu diidamkannya kini hadir dalam rahim wanita itu. Kebahagiaan kehadiran calon bayi itu mengalahkan segalanya. Meskipun mereka dalam keadaan ekonomi yang sulit, mereka selalu berjuang untuk calon anak mereka kelak. Bahkan, mereka sudah menyiapkan nama yang cantik untuk calon anak mereka, Bella Anastasya.

Setelah 9 bulan berada dalam rahim wanita muda itu, sang bayi berhasil keluar ke dunia. Tapi sepertinya, takdir berkata lain. Tak ada tangis yang pecah saat bayi itu lahir. Tak ada gerakan aktif dari tangan dan kaki mungilnya. Kebahagiaan itu seketika runtuh. Awan kesedihan pun perlahan datang.

"Coba kalau kamu lebih bisa menahan diri untuk tidak bekerja, mungkin sekarang anak kita masih hidup." Perkataan suaminya itu bagai petir ditengah awan kesedihannya. Perkataan dari seorang calon ayah yang kehilangan harapannya.
"Apa kamu bilang?! Aku juga kerja untuk kita, untuk anak kita. Kamu sendiri kerja ke kota, jarang pulang. Aku harus menanggung semuanya sendiri tanpa kamu. Kalau kamu sedih, aku lebih sedih! Aku ibunya. Aku yang mengandung dan melahirkannya!"

Suaminya yang ia pikir bisa menjadi pelipur lara dan membangkitkan kembali kebahagiaannya, justru malah menjatuhkannya lebih dalam. Lelaki itu tak pernah benar-benar bermaksud menyakiti hati wanita yang amat dicintainya itu. Namun sayang, wanitanya telah tersakiti begitu dalam karena perkataannya. Ditambah, luka lama yang ada sejak ia kecil yang dibuat oleh orang tuanya. Sejak saat itu, kehidupan mereka tak pernah lagi bahagia. Dia hidup bersama dengan kebencian wanitanya yang terus tumbuh padanya.

Pun ketika wanita itu menemukan seorang bayi mungil yang hanya terbungkus kain putih di dekat rumahnya, dan ia memutuskan untuk merawat bayi perempuan itu, kebahagiaan tak pernah benar-benar ada dalam dirinya dan kehidupan mereka. Wanita itu tak mengizinkan lelakinya untuk menyentuh satu-satunya harta yang ia jaga. Ia akan melakukan segala cara untuk melindunginya.

***

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dalam hidup. Tak ada yang tahu juga kebahagiaan yang datang puluhan tahun silam akan berubah menjadi boomerang untuk wanita itu. Rasa sedih dan kecewa yang teramat sangat karena kehilangan, membuatnya begitu membenci lelaki yang pernah dicintainya. Bak bom waktu, segala yang ia pendam selama ini akan meledak suatu saat.

Anastasya, seorang bayi mungil yang kini sudah bermetamorfosis menjadi gadis cantik. Sebuah nama yang pernah dipersiapkan wanita itu untuk calon bayinya. Seorang gadis tangguh yang sanggup bertahan hidup selama 17 tahun dengan seorang psikopat. 

***

Ditya sudah siap mendengar apapun yang akan dikatakan Ana. Tapi hening masih menguasai keduanya, setelah 20 menit mereka berada di perpustakaan ini.

“Ana...." Ditya mencoba memecah keheningan dan membuyarkan lamunan gadis di hadapannya ini. 
"Maaf, Dit. Aku nggak bisa cerita. Aku nggak tahu apa yang harus aku ceriain."
"An, percaya sama aku. Aku akan bantu kamu. Aku nggak tega melihat kamu seperti ini terus. Setelah apa yang aku alami di rumahmu, apa kamu masih mau menutupi semuanya dan memendamnya sendiri?"
Ana luluh dengan tatapan mata Ditya yang menenangkan dan genggaman tangannya yang memberikan rasa aman.
“Sebenarnya aku sendiri nggak tahu apa yang terjadi sama keluargaku, sama Ibu. Sejak aku kecil mereka sering bertengkar, dan Ibu selalu marah pada Ayah. Sampai pada hari itu, mereka bertengkar hebat. Ayah yang selama ini sabar menghadapi Ibu, kali itu tak kuasa menahan amarah. Ayah keluar dari rumah, dan nggak pernah kembali.” Mata Ana mulai basah, suaranya perlahan hilang.
Ditya masih setia mendengarkan tanpa berkomentar apapun. Ana pun berusaha melanjutkan ceritanya.
“Aku nggak pernah berani untuk bertanya apapun pada Ibu, termasuk soal Bella. Bahkan sampai aku sudah sebesar ini. Aku takut menyakiti hati Ibu. Sikap Ibu sering kali aneh dan nggak masuk akal. Aku selalu menilai itu sebagai tekanan akibat pertengkaran mereka yang membuat Ayah pergi. Tapi aku tidak pernah menyangka Ibu tega melakukan itu semua. Dan aku..... nggak ngerti dengan semua ini.” Tangis Ana pecah. Ia tak sanggup lagi untuk melanjutkan ceritanya.
Hatinya terlalu sakit. Otaknya terlalu lelah untuk mencerna semua kejadian yang kini berlalu lalang dalam ingatannya. Hal yang selalu coba ia lakukan sebelum tidur, diiringi dengan senandung yang juga ia dengar tiap malam.

Genggaman tangan Ditya semakin kuat. Dia tahu, gadis ini mengalami tekanan yang sangat dalam. Yang dibutuhkannya saat ini hanya rasa aman dan nyaman. Dan dia ingin memberikan itu pada Ana.

***

Ditya memaksa untuk mengantar Ana pulang, walau gadis itu sudah menolaknya. Karena dia tidak tahu, apa yang akan terjadi lagi pada Ana, dan apa yang akan ibunya lakukan padanya setelah apa yang terjadi kemarin. Ditya hanya ingin memastikan Ana aman.
Baru saja Ana membuka pintu rumahnya, ia dikagetkan dengan ibunya yang tiba-tiba saja berdiri di balik pintu.
“Kamu pulang tepat waktu, Nak,” sapa Ibu dengan senyum diwajahnya.
“I-iya, Bu,” jawab Ana tergagap.
Senyum Ibu pudar seketika ketika melihat siapa yang berada di belakang Ana.
Ana menoleh. Ternyata Ditya masih berdiri di depan rumahnya.
Tatapan tajam mata Ibu membuatnya bergidik. Ana mundur satu langkah. Tapi Ibu dengan sigap mencengkeram tangan Ana.
Ana berteriak sekeras yang ia bisa. Wanita paruh baya itu bukanlah lagi sosok Ibu yang Ana kenal, wanita yang selalu memberikan rasa sayang dan perhatian melimpah padanya. Ibu menarik tangan Ana, membawanya menuju pintu belakang. Ditya berusaha mengejar mereka. Ibu masih mencengkeram erat tangan Ana, tak peduli dia meronta kesakitan. Sampai berada kamar ini, Ibu baru melepaskannya.
Ya, kamar di rumah tua.

Ana dan Ditya tercengang melihat apa yang ada disini. Ingin rasanya Ana berteriak, tapi ia sudah tidak sanggup. Suaranya sudah habis.
Tubuh ayah, boneka Bella, dan banyak benda-benda berserakan di kamar ini. Juga sebuah foto yang memamerkan kemesraan Ayah dan Ibu, namun terdapat tanda silang tepat di atas tubuh Ayah.
“Ana... Maafkan Ibu, Nak. Banyak hal yang Ibu sembunyikan darimu.” Ibu mengambil sebilah pisau yang tergeletak di lantai.
“Ibu menyayangimu, Ana. Dan Ibu juga menyayangi mereka.....”
Mata Ana mengikuti ujung pisau yang Ibu arahkan ke tubuh Ayah dan boneka Bella. Ana yang tersungkur di lantai tak bisa lagi berkata. Hanya air mata yang terus mengalir seakan tak ada habisnya. Bahkan saat ibunya perlahan mendekatinya dengan sebilah pisau di tangan kanannya, ia hanya bisa diam.
“Dan kini, Ibu tak mau lagi membuatmu menderita......” ucap Ibu seraya membelai lembut rambutnya. Ana sudah pasrah, jika memang ia harus mati di tangan ibunya.
Ibu berbalik, berjalan kearah tubuh Ayah dan boneka Bella.
“Ibu yakin kamu sudah dewasa. Jalani lah hidupmu sendiri.” Ibu lalu memeluk tubuh Ayah dengan tangan kirinya, dan menggenggam boneka Bella di tangan kanannya.
“Ibu ingin pulang, Nak. Bersama Ayah dan anak Ibu, Bella.” Dengan cepat Ibu menghunuskan pisau tepat di dada kirinya.

“Ibu...........”
Ana hanya bisa berbisik lirih melihat apa yang terjadi di hadapannya. Ia berusaha mendekati ibunya, namun raganya terlalu lemah. Ditya yang sedari tadi terpaku di belakang Ana, dengan cekatan merangkulnya.

“Ini semua sudah berakhir, An. Aku disini, untukmu.” Bisikan Ditya membuat air mata Ana semakin deras. Ditya merangkulnya lebih erat. Membiarkan gadis itu menumpahkan segala beban yang ada. Mencoba meyakinkan Ana bahwa ia akan selalu ada untuknya.

***

“Flower in my hair...”
“Demons in my head...”
“Madness in my mind...”
“Darkness in my soul...”
“And storm in my heart...”

Senandung abadi yang tak akan pernah mati.
Kekuatan jiwa yang terpatri di hati.



THE END-

___________________________________________________

Note:
Tulisan ini adalah Challenge menulis STORY BLOG TOUR dari komunitas OWOP (One Week One Paper). Di mana member lain yang sudah diberi urutan absen melanjutkan sesuai imajinasinya di blog pribadinya.
Aku ditakdirkan untuk menjadi penutup cerita STORY BLOG TOUR ini..
Kalo kalian mau baca ceritanya dari awal, silahkan intip blog dibawah ini ^^



Wednesday, 30 December 2015

Keakuanku, pada sebuah rasa.

Aku sudah terbiasa denganmu.
Dan satu hal yang tak bisa kubantah: aku betah berada di dekatmu!
Alunan nada yang tercipta
Menyiratkan rona semu yang seketika hadir.
Aku tak pernah berpikir rasa ini ada
Tak pernah terpikir juga kamu akan menjadi salah satu alasan bahagiaku.
Semua berjalan tanpa rekayasa.
Seperti ketika rasa ini mengetuk pintu hati, tanpa tanda tanya, tanpa syarat.
Menyesakkan.
Ketika bayangmu hilang dan memaksaku diam.
Maaf atas setiap silap kata yang kuucap.
Maaf atas setiap salah sikap yang kuperbuat.
Aku tidak akan pernah menjadi yang terbaik.
Tapi selalu berusaha menjadi lebih baik.
Dan kini, aku ingin meyakini, hatiku masih terpaut padamu.
Aku harus menyerah pada keakuanku.
Jadi, izinkan aku menyimpannya.
Menetapkan rasa yang tak ingin kamu tahu.
Biarkan aku mempedulikanmu, tanpa merasa menjadi yang paling peduli.
Biarkan aku menyayangimu, tanpa merasa menjadi yang paling tulus.
Hingga ia menjelma menjadi sebuah cinta.
Karena cinta tidak butuh alasan, bukan?

-FRD-

Friday, 18 December 2015

Rindu, rasa, dan cinta

Ketika sekeping rindu hadir
Hanya berharap tatap
Yang mungkin cukup untuk mengobati sakit karena menahannya

Ketika sebongkah rasa tercipta
Hanya berharap dekap hangat
Yang mungkin cukup untuk menguatkan saat diri lemah karenanya

Dan ketika setitik cinta tersirat
Hanya dapat berpilin doa
Yang mungkin dapat menjaganya
Hingga Tuhan berkenan menyuratkannya

-FRD-
18.12.15

Sunday, 15 November 2015

Tanpa titik

Ini caraku berteman denganmu,
Menjadi pendengar setia atas kisah dan keluh kesahmu
Menjadi pelukis senyum ketika muram menghampirimu
Menjadi pendorong semangatmu saat lelah singgah padamu

Ini caraku peduli padamu,
Mengingatkan hal-hal kecil yang sering kali kamu lupa
Memperhatikan hal-hal kecil yang sering kali kamu lewatkan
Menegurmu atas kesalahan kecil yang kamu lakukan

Ini caraku menyayangimu,
Menyelipkan semua tentangmu diantara percakapanku dengan Sang Pemilik Hati

Dan ini, caraku mencintaimu
Tanpa tanda tanya, tanpa titik

-FRD-
15.11.15

Thursday, 3 September 2015

[FlashFiction] Harapan Baru

Tempat ini asing bagiku. Tiba-tiba saja aku terbangun di tempat yang sama sekali tidak aku tahu. Aku linglung, kebingungan. Hanya hamparan rerumputan yg aku lihat sepanjang mata memandang.
Aku mencoba berdiri, menuju sisi jalan yang terlihat memberiku harapan. Harapan untuk pulang. Kutelusuri jalan setapak ini. Seperti tak berujung. Beberapa kali lelah menghampiri dan pandangan mata sudah jemu melihat gurun hijau ini.
Ketika aku terpekur ditengah perjalanan, tiba-tiba mataku menangkap beberapa warna putih diujung jalan sana. Dan.... Sebuah kotak berwarna merah. Aku memicingkan mata dan bergerak maju kearahnya. Untuk memastikan bahwa yang kulihat adalah harapan baru, bukan sekedar oase.

"T-E-L-E-P-H-O-N-E." Aku mengeja tulisan diatas kotak itu yang membuat senyumku langsung terkembang.
Aku masuk kedalamnya untuk memastikan masih berfungsi atau tidak. Sebuah telepon tua bertengger disana. Aku merogoh kantung celanaku yang kotor. Berharap menemukan sebuah koin disana.
Kumasukan koin itu dan kuputar nomer yang sangat kuhafal.
"Halo... " sapa seseorang diseberang.
"Aku ingin pulang," ucapku lirih.
Tidak ada balasan darinya.
"Tolong beri aku satu kesempatan lagi. Izinkan aku pulang," lanjutku.
"Tidak, Mas. Tidak ada lagi tempatmu untuk pulang."
"Tidak bisakah kamu memaafkan aku dan beri aku satu kesempatan lagi? Aku benar-benar menyesal. Aku berjanji akan berubah. Saat ini aku hanya ingin pulang, bertemu denganmu. Aku tidak ingin kehilanganmu."
Hanya terdengar isak dari seberang sana.
Aku menundukkan kepala. Menunggunya bersuara. Aku hanya bisa berharap, ada harapan baru dari seberang sana.
Mataku pun mulai basah mendengar isak tangisnya yang semakin menjadi.
"Kembalilah, Mas. Aku menunggumu pulang," jawabnya lirih.
Senyumku pun terkembang. Di dalam kotak merah ini kutemukan harapan baru.

-FRD-
04.08.2015

[Fiction] Twinny

"Punya saudara kembar seru kali, ya. Sesekali bisa tukeran posisi tanpa orang tahu. Tapi lo pasti nggak bisa gitu kan, Sha?" celetuk temanku suatu waktu. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Tidak ingin membuyarkan khayalannya untuk mempunyai saudara kembar.
"Sha, ayo pulang." Dan laki-laki itu baru saja membuyarkan khayalan teman disebelahku ini.
Setelah berpamitan dengannya, aku melenggang pergi dengan motor sport yang dikendarai laki-laki itu.

Dia, laki-laki popoler yang menjadi idaman para wanita di kampus. Aku, wanita yang membuat iri wanita lain karena aku bisa dekat dengannya. Kami sudah dekat dan selalu bersama sejak kami belum dilahirkan.
Ya, kami adalah saudara kembar. Tapi aku tidak pernah merasa mempunyainya.
Ezra, saudara kembarku itu lahir dua menit lebih awal sebelum aku lahir. Kami bukan kembar identik, dan jenis kelamin kami juga berbeda. Sejak kecil pun orang tua kami tidak memperlakukan kami seperti anak kembar yang apa-apa harus sama. Itulah sebabnya aku berkata begitu.

Hanya segelintir teman-teman kampus yang tahu kami kembar. Bukan kami bermaksud menutupi identitas kami. Hanya saja kami malas mengumumkan kalau kami ini kembar. Aku dan Ezra berbeda fakultas. Makanya kami jarang terlihat bersama di kampus. Ezra yang seorang ketua BEM dan penyiar radio kampus, membuat siapa saja wanita yang dekat dengannya akan menjadi perhatian. Jika dia sedang sendiri, dia pasti akan pergi denganku.

Aku hanya akan memberitahu tentang kami jika ada yang bertanya padaku seperti ini, "Kalo diperhatiin, lo mirip deh sama Ezra, kalian kembar, ya?" Itu artinya dia orang yang peka.
Atau jika ada yang bertanya pada Ezra seperti ini, "Lo sama Eisha kayak anak kembar. Mirip tahu! Apa karena kalian sering jalan bareng?" Nah, biasanya yang bertanya begitu adalah wanita yang iri denganku. Sisanya, akan berkata seperti ini, "Kalian mirip deh, jangan-jangan kalian berjodoh (?)" Kalau itu hanya menjadi bahan tertawaan kami saja.

Ya, kami memang jarang memakai baju yang sama, tidak mempunyai barang-barang yang sama, dan tidak bisa bertukar posisi tanpa orang tahu seperti yang dikhayalkan temanku itu. Tapi kami bahagia karena saling mengerti tanpa harus berkata.
Kami bahagia karena saling memahami tanpa harus bercerita.
Dan kami bahagia karena saling memiliki.

-FRD-

Tuesday, 18 August 2015

Kombinasi sempurna

Aku tidak pernah menyukai aroma itu.
Aroma uap yang mengepul dari segelas kopi yang tersaji di mejamu.
Manis. Renyah.
Juga aroma tanah basah yang tercium saat gerimis tiba-tiba turun.
Aroma yang kamu sukai.

Aku tidak pernah menyukai rasa itu.
Berbagai macam rasa yang hadir dalam tegukan pertamamu.
Manis, katamu.
Dan tentu saja pahit yang tidak bisa terelakkan.
Juga rasa senang saat kamu membiarkan gerimis membasahimu.
Menenangkan, katamu.
Dan tentu saja gelisah yang juga mampir.

Hujan dan kopi.
Kombinasi sempurna kebahagiaan, bagimu.
Kombinasi sempurna sebuah elegi, bagiku.

Aku bukan pecinta hujan, juga bukan penikmat kopi.
Aku memang tidak pernah menyukai aroma dan rasa itu.
Tapi aku, pernah meyukaimu.

-FRD-