"Punya saudara kembar seru kali, ya. Sesekali bisa tukeran posisi tanpa orang tahu. Tapi lo pasti nggak bisa gitu kan, Sha?" celetuk temanku suatu waktu. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Tidak ingin membuyarkan khayalannya untuk mempunyai saudara kembar.
"Sha, ayo pulang." Dan laki-laki itu baru saja membuyarkan khayalan teman disebelahku ini.
Setelah berpamitan dengannya, aku melenggang pergi dengan motor sport yang dikendarai laki-laki itu.
Dia, laki-laki popoler yang menjadi idaman para wanita di kampus. Aku, wanita yang membuat iri wanita lain karena aku bisa dekat dengannya. Kami sudah dekat dan selalu bersama sejak kami belum dilahirkan.
Ya, kami adalah saudara kembar. Tapi aku tidak pernah merasa mempunyainya.
Ezra, saudara kembarku itu lahir dua menit lebih awal sebelum aku lahir. Kami bukan kembar identik, dan jenis kelamin kami juga berbeda. Sejak kecil pun orang tua kami tidak memperlakukan kami seperti anak kembar yang apa-apa harus sama. Itulah sebabnya aku berkata begitu.
Hanya segelintir teman-teman kampus yang tahu kami kembar. Bukan kami bermaksud menutupi identitas kami. Hanya saja kami malas mengumumkan kalau kami ini kembar. Aku dan Ezra berbeda fakultas. Makanya kami jarang terlihat bersama di kampus. Ezra yang seorang ketua BEM dan penyiar radio kampus, membuat siapa saja wanita yang dekat dengannya akan menjadi perhatian. Jika dia sedang sendiri, dia pasti akan pergi denganku.
Aku hanya akan memberitahu tentang kami jika ada yang bertanya padaku seperti ini, "Kalo diperhatiin, lo mirip deh sama Ezra, kalian kembar, ya?" Itu artinya dia orang yang peka.
Atau jika ada yang bertanya pada Ezra seperti ini, "Lo sama Eisha kayak anak kembar. Mirip tahu! Apa karena kalian sering jalan bareng?" Nah, biasanya yang bertanya begitu adalah wanita yang iri denganku. Sisanya, akan berkata seperti ini, "Kalian mirip deh, jangan-jangan kalian berjodoh (?)" Kalau itu hanya menjadi bahan tertawaan kami saja.
Ya, kami memang jarang memakai baju yang sama, tidak mempunyai barang-barang yang sama, dan tidak bisa bertukar posisi tanpa orang tahu seperti yang dikhayalkan temanku itu. Tapi kami bahagia karena saling mengerti tanpa harus berkata.
Kami bahagia karena saling memahami tanpa harus bercerita.
Dan kami bahagia karena saling memiliki.
-FRD-
No comments:
Post a Comment