Belasan tahun silam, kebahagiaan sedang
meliputi dua sejoli yang sudah 5 tahun membangun rumah tangga. Bagaimana tidak,
kehadiran janin yang selalu diidamkannya kini hadir dalam rahim wanita itu.
Kebahagiaan kehadiran calon bayi itu mengalahkan segalanya. Meskipun mereka
dalam keadaan ekonomi yang sulit, mereka selalu berjuang untuk calon anak
mereka kelak. Bahkan, mereka sudah menyiapkan nama yang cantik untuk calon anak
mereka, Bella Anastasya.
Setelah 9 bulan berada dalam rahim wanita muda itu, sang bayi berhasil
keluar ke dunia. Tapi sepertinya, takdir berkata lain. Tak ada tangis yang
pecah saat bayi itu lahir. Tak ada gerakan aktif dari tangan dan kaki
mungilnya. Kebahagiaan itu seketika runtuh. Awan kesedihan pun perlahan datang.
"Coba kalau kamu lebih bisa menahan diri untuk tidak bekerja, mungkin
sekarang anak kita masih hidup." Perkataan suaminya itu bagai petir
ditengah awan kesedihannya. Perkataan dari seorang calon ayah yang kehilangan
harapannya.
"Apa kamu bilang?! Aku juga kerja untuk kita, untuk anak kita. Kamu sendiri kerja ke
kota, jarang pulang. Aku harus menanggung semuanya sendiri tanpa kamu. Kalau
kamu sedih, aku lebih sedih! Aku ibunya. Aku yang mengandung dan
melahirkannya!"
Suaminya yang ia pikir bisa menjadi pelipur lara dan membangkitkan kembali
kebahagiaannya, justru malah menjatuhkannya lebih dalam. Lelaki itu tak
pernah benar-benar bermaksud menyakiti hati wanita yang amat dicintainya itu.
Namun sayang, wanitanya telah tersakiti begitu dalam karena perkataannya.
Ditambah, luka lama yang ada sejak ia kecil yang dibuat oleh orang
tuanya. Sejak
saat itu, kehidupan mereka tak pernah lagi bahagia. Dia hidup bersama dengan
kebencian wanitanya yang terus tumbuh padanya.
Pun ketika wanita itu
menemukan seorang bayi mungil yang hanya terbungkus kain putih di dekat
rumahnya, dan ia memutuskan untuk merawat bayi perempuan itu, kebahagiaan tak
pernah benar-benar ada dalam dirinya dan kehidupan mereka. Wanita itu tak
mengizinkan lelakinya untuk menyentuh satu-satunya harta yang ia jaga. Ia
akan melakukan segala cara untuk melindunginya.
***
Tidak ada yang tahu apa yang
akan terjadi dalam hidup. Tak ada yang tahu juga kebahagiaan yang datang
puluhan tahun silam akan berubah menjadi boomerang untuk wanita itu. Rasa sedih
dan kecewa yang teramat sangat karena kehilangan, membuatnya begitu membenci
lelaki yang pernah dicintainya. Bak bom waktu, segala yang ia pendam selama ini
akan meledak suatu saat.
Anastasya, seorang bayi
mungil yang kini sudah bermetamorfosis menjadi gadis cantik. Sebuah nama yang pernah
dipersiapkan wanita itu untuk calon bayinya. Seorang gadis tangguh yang sanggup
bertahan hidup selama 17 tahun dengan seorang psikopat.
***
Ditya sudah siap mendengar
apapun yang akan dikatakan Ana. Tapi hening masih menguasai keduanya, setelah
20 menit mereka berada di perpustakaan ini.
“Ana...." Ditya mencoba
memecah keheningan dan membuyarkan lamunan gadis di hadapannya ini.
"Maaf, Dit. Aku nggak
bisa cerita. Aku nggak tahu apa yang harus aku ceriain."
"An, percaya sama aku.
Aku akan bantu kamu. Aku nggak tega melihat kamu seperti ini terus. Setelah apa
yang aku alami di rumahmu, apa kamu masih mau menutupi semuanya dan memendamnya
sendiri?"
Ana luluh dengan tatapan
mata Ditya yang menenangkan dan genggaman tangannya yang memberikan rasa aman.
“Sebenarnya aku sendiri
nggak tahu apa yang terjadi sama keluargaku, sama Ibu. Sejak aku kecil mereka
sering bertengkar, dan Ibu selalu marah pada Ayah. Sampai pada hari itu, mereka
bertengkar hebat. Ayah yang selama ini sabar menghadapi Ibu, kali itu tak kuasa
menahan amarah. Ayah keluar dari rumah, dan nggak pernah kembali.” Mata Ana
mulai basah, suaranya perlahan hilang.
Ditya masih setia
mendengarkan tanpa berkomentar apapun. Ana pun berusaha melanjutkan ceritanya.
“Aku nggak pernah berani
untuk bertanya apapun pada Ibu, termasuk soal Bella. Bahkan sampai aku sudah sebesar
ini. Aku takut menyakiti hati Ibu. Sikap Ibu sering kali aneh dan nggak masuk
akal. Aku selalu menilai itu sebagai tekanan akibat pertengkaran mereka yang
membuat Ayah pergi. Tapi aku tidak pernah menyangka Ibu tega melakukan itu
semua. Dan aku..... nggak ngerti dengan semua ini.” Tangis Ana pecah. Ia tak
sanggup lagi untuk melanjutkan ceritanya.
Hatinya terlalu sakit. Otaknya
terlalu lelah untuk mencerna semua kejadian yang kini berlalu lalang dalam
ingatannya. Hal yang selalu coba ia lakukan sebelum tidur, diiringi dengan senandung
yang juga ia dengar tiap malam.
Genggaman tangan Ditya
semakin kuat. Dia tahu, gadis ini mengalami tekanan yang sangat dalam. Yang dibutuhkannya
saat ini hanya rasa aman dan nyaman. Dan dia ingin memberikan itu pada Ana.
***
Ditya memaksa untuk
mengantar Ana pulang, walau gadis itu sudah menolaknya. Karena dia tidak tahu,
apa yang akan terjadi lagi pada Ana, dan apa yang akan ibunya lakukan padanya
setelah apa yang terjadi kemarin. Ditya hanya ingin memastikan Ana aman.
Baru saja Ana membuka pintu
rumahnya, ia dikagetkan dengan ibunya yang tiba-tiba saja berdiri di balik
pintu.
“Kamu pulang tepat waktu, Nak,” sapa Ibu dengan senyum diwajahnya.
“I-iya, Bu,” jawab Ana
tergagap.
Senyum Ibu pudar seketika
ketika melihat siapa yang berada di belakang Ana.
Ana menoleh. Ternyata Ditya
masih berdiri di depan rumahnya.
Tatapan tajam mata Ibu
membuatnya bergidik. Ana mundur satu langkah. Tapi Ibu dengan sigap
mencengkeram tangan Ana.
Ana berteriak sekeras yang
ia bisa. Wanita paruh baya itu bukanlah lagi sosok Ibu yang Ana kenal, wanita
yang selalu memberikan rasa sayang dan perhatian melimpah padanya. Ibu menarik
tangan Ana, membawanya menuju pintu belakang. Ditya berusaha mengejar mereka.
Ibu masih mencengkeram erat tangan Ana, tak peduli dia meronta kesakitan.
Sampai berada kamar ini, Ibu baru melepaskannya.
Ya, kamar di rumah tua.
Ana dan Ditya tercengang
melihat apa yang ada disini. Ingin rasanya Ana berteriak, tapi ia sudah tidak
sanggup. Suaranya sudah habis.
Tubuh ayah, boneka Bella,
dan banyak benda-benda berserakan di kamar ini. Juga sebuah foto yang memamerkan kemesraan Ayah dan Ibu, namun terdapat tanda silang tepat di atas tubuh Ayah.
“Ana... Maafkan Ibu, Nak.
Banyak hal yang Ibu sembunyikan darimu.” Ibu mengambil sebilah pisau yang
tergeletak di lantai.
“Ibu menyayangimu, Ana. Dan Ibu
juga menyayangi mereka.....”
Mata Ana mengikuti ujung
pisau yang Ibu arahkan ke tubuh Ayah dan boneka Bella. Ana yang tersungkur
di lantai tak bisa lagi berkata. Hanya air mata yang terus mengalir seakan tak
ada habisnya. Bahkan saat ibunya perlahan mendekatinya dengan sebilah pisau di
tangan kanannya, ia hanya bisa diam.
“Dan kini, Ibu tak mau lagi
membuatmu menderita......” ucap Ibu seraya membelai lembut rambutnya. Ana sudah
pasrah, jika memang ia harus mati di tangan ibunya.
Ibu berbalik, berjalan
kearah tubuh Ayah dan boneka Bella.
“Ibu yakin kamu sudah dewasa.
Jalani lah hidupmu sendiri.” Ibu lalu memeluk tubuh Ayah dengan tangan kirinya,
dan menggenggam boneka Bella di tangan kanannya.
“Ibu ingin pulang, Nak. Bersama
Ayah dan anak Ibu, Bella.” Dengan cepat Ibu menghunuskan pisau tepat di dada
kirinya.
“Ibu...........”
Ana hanya bisa berbisik
lirih melihat apa yang terjadi di hadapannya. Ia berusaha mendekati ibunya,
namun raganya terlalu lemah. Ditya yang sedari tadi terpaku di belakang Ana,
dengan cekatan merangkulnya.
“Ini semua sudah berakhir,
An. Aku disini, untukmu.” Bisikan Ditya membuat air mata Ana semakin deras.
Ditya merangkulnya lebih erat. Membiarkan gadis itu menumpahkan segala beban
yang ada. Mencoba meyakinkan Ana bahwa ia akan selalu ada untuknya.
***
“Flower in my hair...”
“Demons in my head...”
“Madness in my mind...”
“Darkness in my soul...”
“And storm in my heart...”
Senandung abadi yang tak akan pernah mati.
Kekuatan jiwa yang terpatri di hati.
THE END-
___________________________________________________
Note:
Tulisan ini adalah Challenge menulis STORY BLOG TOUR dari komunitas OWOP (One Week One Paper). Di mana member lain yang sudah diberi urutan absen melanjutkan sesuai imajinasinya di blog pribadinya.
Aku ditakdirkan untuk menjadi penutup cerita STORY BLOG TOUR ini..
Kalo kalian mau baca ceritanya dari awal, silahkan intip blog dibawah ini ^^
Episode 1 : Senandung Malam – Nadhira Arini
Episode 2 : Rumah tua – Rizka Zu Agustina
Episode 4 : Kunci yang Diputar Tengah Malam – Rizki Khotimah
Episode 5 : Tamu Tak Diundang – Dini Riyani
Episode 6 : Pulang – Nurhikmah Taliasih
Episode 7 : Tamu Tak Diundang (Lagi) – Mister Izzy
Episode 8 : Jantung – Depi
Episode 9 : Orang yang Seharusnya Tiada – Nifa
Episode 10 : Keributan di Malam Hari – Imron Prayogi
Episode 11 : Ada Rahasia Di Rumah Tua -Enie Handyas
Episode 11 : Ada Rahasia Di Rumah Tua -Enie Handyas
Waw... You did it, Dila. :)
ReplyDeleteHuweeeeee. Sad endiiing :(
ReplyDeleteBtw, kereeen :""
Hohoho... Finally.. XD
ReplyDeleteSeru! Lagi yuk! Hahaha..