Tuesday, 9 June 2015

Pelangi kelabu

last time, I listened to my friend's story 'bout his broken heart. He was very upset, dissapointed, sad, down, and another bad feelings. This is the first time he fell.


Cinta itu abstrak, masalah yang timbul karena cinta itu sendiri juga masalah yang abstrak. Tidak bisa dijelaskan, tapi ingin diselesaikan. Rasa sakit dan kecewa seperti sudah menjadi bagian dari cinta. Saat rasa yang dulu pernah menjadi alasanmu untuk tersenyum, ketika dia yang menjadi alasanmu itu pergi, itulah saatnya dia juga yang menjadi alasanmu bersedih. Mungkin rasanya duniamu hancur, semangatmu hilang, dan sebagian pondasi hatimu yang dulu pernah kamu bangun bersamanya mulai runtuh. Ingin rasanya kamu melupakannya segera. Berharap secepatnya dia hilang dari ingatanmu. Hei, kamu ngga akan pernah bisa melupakan orang yang pernah melukis pelangi di hatimu. Mencoba merubahnya menjadi warna hitam? Ngga akan bisa. Warna pelangi ngga akan berubah. Warna pelangi hanya akan memudar, kemudian menghilang. Sadar ngga kalo apa yang kamu lakukan saat ini membuat warnanya menjadi kelabu? Menyendiri, meratapi dia yang pergi darimu, mengingat kembali kenangan-kenangan dia bersamamu. Tanpa sadar kamu membuat pelangi itu menjadi abu-abu.
Kepergiannya bukan karena tanpa alasan. Sejuta alasan bisa membuatnya pergi darimu. Kejenuhan dalam suatu hubungan, perbedaan pendapat, orangtua yang tidak merestui, dan alasan-alasan lainnya. Intinya, Allah tidak mengizinkanmu untuk bersamanya saat ini. Kalo dia pergi karena kamu ngga bisa meyakinkan dia, apa kamu bisa meyakinkan diri kamu sendiri? Meyakinkan kalo kamu bisa melewati ini semua, melawan rasa sakitmu. Namanya juga “jatuh cinta”. Jadi, cinta dan jatuh itu satu paket, bukan? Saat dulu kamu merasakan cintanya, mungkin ini saatnya kamu merasakan jatuhnya. Jatuh itu memang sakit, banyak luka yang diterima. So, nikmati aja dulu rasa jatuhnya dan semua lukanya. Masa cuma mau merasakan cintanya.. hehe.. Gimana cara nikmatinya? Ya nikmati aja dengan semua rasa sakit yang ada, dengan semua kekecewaan yang singgah, sampai waktu menghapusnya perlahan, sampai lukamu kering perlahan.
Waktu mengajari kita banyak hal. Mengajarkan arti kesabaran, ketulusan, juga keikhlasan. Yang mungkin saat ini, kita sendiri ngga yakin apa kita bisa atau engga. Tapi yakinlah, waktu akan mengajarinya perlahan. Dengan proses yang mungkin berat, dengan jalan yang mungkin terjal dan berbatu, yang sulit untuk kita lalui.
Menangislah sampai airmatamu kering, kalo kamu rasa itu perlu. Berteriaklah sekencangnya sampai suaramu habis, kalo kamu rasa itu perlu. Dan berhentilah ketika kamu rasa itu cukup. Lalu bercermin. Pantaskah kita melakukan itu? Kita hanyalah lakon yang siap memerankan semua yang sudah diskenariokan. Allah yang hadirkan rasa cinta, dan Allah pula yang hadirkan sakit itu. Apakah kita sudah menjadi aktor yang baik dihadapan-Nya? Allah hadirkan sakit itu agar kita bisa belajar. Apakah kita sudah memantaskan diri untuk mendampinginya?


Rasa sakit itu akan terus ada selama kamu mengizinkannya. Luka itu tidak akan mengering selama kamu membiarkannya tinggal. Bangun kembali pondasi hatimu yang runtuh itu dengan semua rasa sakit, luka dan kekecewaan yang kamu rasa. Bangun sebaik mungkin sampai menjadi pondasi yang kuat. Dan ketika selama proses penyembuhan ini rasa sakit itu hadir kembali, kamu tahu harus bagaimana.
Tetaplah cintai dia selama kamu ingin. Cintai dia dengan cara yang lain; selipkan namanya disetiap perbincanganmu dengan Rabb-mu. Tapi jangan pernah berusaha melupakan, karena kamu ngga akan pernah bisa. Biarkan semua kenangan itu memudar bersama pelangi itu dan hapuslah warna kelabu yang kamu buat. Jika namanya yang tertulis untukmu, dia akan kembali mencerahkan warna pelangimu. Namun jika bukan, akan ada seseorang yang memberikan warna baru di pelangimu.

No comments:

Post a Comment