Thursday, 3 September 2015

[FlashFiction] Harapan Baru

Tempat ini asing bagiku. Tiba-tiba saja aku terbangun di tempat yang sama sekali tidak aku tahu. Aku linglung, kebingungan. Hanya hamparan rerumputan yg aku lihat sepanjang mata memandang.
Aku mencoba berdiri, menuju sisi jalan yang terlihat memberiku harapan. Harapan untuk pulang. Kutelusuri jalan setapak ini. Seperti tak berujung. Beberapa kali lelah menghampiri dan pandangan mata sudah jemu melihat gurun hijau ini.
Ketika aku terpekur ditengah perjalanan, tiba-tiba mataku menangkap beberapa warna putih diujung jalan sana. Dan.... Sebuah kotak berwarna merah. Aku memicingkan mata dan bergerak maju kearahnya. Untuk memastikan bahwa yang kulihat adalah harapan baru, bukan sekedar oase.

"T-E-L-E-P-H-O-N-E." Aku mengeja tulisan diatas kotak itu yang membuat senyumku langsung terkembang.
Aku masuk kedalamnya untuk memastikan masih berfungsi atau tidak. Sebuah telepon tua bertengger disana. Aku merogoh kantung celanaku yang kotor. Berharap menemukan sebuah koin disana.
Kumasukan koin itu dan kuputar nomer yang sangat kuhafal.
"Halo... " sapa seseorang diseberang.
"Aku ingin pulang," ucapku lirih.
Tidak ada balasan darinya.
"Tolong beri aku satu kesempatan lagi. Izinkan aku pulang," lanjutku.
"Tidak, Mas. Tidak ada lagi tempatmu untuk pulang."
"Tidak bisakah kamu memaafkan aku dan beri aku satu kesempatan lagi? Aku benar-benar menyesal. Aku berjanji akan berubah. Saat ini aku hanya ingin pulang, bertemu denganmu. Aku tidak ingin kehilanganmu."
Hanya terdengar isak dari seberang sana.
Aku menundukkan kepala. Menunggunya bersuara. Aku hanya bisa berharap, ada harapan baru dari seberang sana.
Mataku pun mulai basah mendengar isak tangisnya yang semakin menjadi.
"Kembalilah, Mas. Aku menunggumu pulang," jawabnya lirih.
Senyumku pun terkembang. Di dalam kotak merah ini kutemukan harapan baru.

-FRD-
04.08.2015

[Fiction] Twinny

"Punya saudara kembar seru kali, ya. Sesekali bisa tukeran posisi tanpa orang tahu. Tapi lo pasti nggak bisa gitu kan, Sha?" celetuk temanku suatu waktu. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Tidak ingin membuyarkan khayalannya untuk mempunyai saudara kembar.
"Sha, ayo pulang." Dan laki-laki itu baru saja membuyarkan khayalan teman disebelahku ini.
Setelah berpamitan dengannya, aku melenggang pergi dengan motor sport yang dikendarai laki-laki itu.

Dia, laki-laki popoler yang menjadi idaman para wanita di kampus. Aku, wanita yang membuat iri wanita lain karena aku bisa dekat dengannya. Kami sudah dekat dan selalu bersama sejak kami belum dilahirkan.
Ya, kami adalah saudara kembar. Tapi aku tidak pernah merasa mempunyainya.
Ezra, saudara kembarku itu lahir dua menit lebih awal sebelum aku lahir. Kami bukan kembar identik, dan jenis kelamin kami juga berbeda. Sejak kecil pun orang tua kami tidak memperlakukan kami seperti anak kembar yang apa-apa harus sama. Itulah sebabnya aku berkata begitu.

Hanya segelintir teman-teman kampus yang tahu kami kembar. Bukan kami bermaksud menutupi identitas kami. Hanya saja kami malas mengumumkan kalau kami ini kembar. Aku dan Ezra berbeda fakultas. Makanya kami jarang terlihat bersama di kampus. Ezra yang seorang ketua BEM dan penyiar radio kampus, membuat siapa saja wanita yang dekat dengannya akan menjadi perhatian. Jika dia sedang sendiri, dia pasti akan pergi denganku.

Aku hanya akan memberitahu tentang kami jika ada yang bertanya padaku seperti ini, "Kalo diperhatiin, lo mirip deh sama Ezra, kalian kembar, ya?" Itu artinya dia orang yang peka.
Atau jika ada yang bertanya pada Ezra seperti ini, "Lo sama Eisha kayak anak kembar. Mirip tahu! Apa karena kalian sering jalan bareng?" Nah, biasanya yang bertanya begitu adalah wanita yang iri denganku. Sisanya, akan berkata seperti ini, "Kalian mirip deh, jangan-jangan kalian berjodoh (?)" Kalau itu hanya menjadi bahan tertawaan kami saja.

Ya, kami memang jarang memakai baju yang sama, tidak mempunyai barang-barang yang sama, dan tidak bisa bertukar posisi tanpa orang tahu seperti yang dikhayalkan temanku itu. Tapi kami bahagia karena saling mengerti tanpa harus berkata.
Kami bahagia karena saling memahami tanpa harus bercerita.
Dan kami bahagia karena saling memiliki.

-FRD-

Tuesday, 18 August 2015

Kombinasi sempurna

Aku tidak pernah menyukai aroma itu.
Aroma uap yang mengepul dari segelas kopi yang tersaji di mejamu.
Manis. Renyah.
Juga aroma tanah basah yang tercium saat gerimis tiba-tiba turun.
Aroma yang kamu sukai.

Aku tidak pernah menyukai rasa itu.
Berbagai macam rasa yang hadir dalam tegukan pertamamu.
Manis, katamu.
Dan tentu saja pahit yang tidak bisa terelakkan.
Juga rasa senang saat kamu membiarkan gerimis membasahimu.
Menenangkan, katamu.
Dan tentu saja gelisah yang juga mampir.

Hujan dan kopi.
Kombinasi sempurna kebahagiaan, bagimu.
Kombinasi sempurna sebuah elegi, bagiku.

Aku bukan pecinta hujan, juga bukan penikmat kopi.
Aku memang tidak pernah menyukai aroma dan rasa itu.
Tapi aku, pernah meyukaimu.

-FRD- 

Monday, 13 July 2015

Elegi sunyi

Rasanya enggan untuk berjalan lagi
Walau hanya sekedar bayang yang akan sirna
Rasanya malas untuk menetap lebih lama lagi
Walau raga yang bersua tanpa jiwa

Menatap langkahnya yang tegap
Berlalu dengan cepat
Menempuh jalannya yang panjang
Hanya kosong yang tersisa

Mentari yang bersinar akan tetap sama
Dan senja yang mengerling pun akan tetap sama

Kamu? akan terus terbang dengan sayapmu
Menembus langit yang tak terbatas
Sedang aku? setengah mati berjuang dengan kedua tanganku
Mengoyak tanah yang semakin keras

-FRD-

Saturday, 4 July 2015

[FlashFiction] I'm the lucky one

Aku bosan disini. Hanya diam dibalik kaca, diantara teman-temanku yang juga hanya bisa diam. Banyak manusia yang lalu lalang, tapi mereka hanya melihatku saja. Setiap mereka menatapku, aku selalu berteriak "adopsi aku!" tapi kurasa mereka tidak mendengarnya. Aku selalu senang jika ada yang melihatku dengan mata yang berbinar, seakan ingin mengadopsiku. Tapi mereka segera berlalu begitu saja.

Hari ini seperti biasa, melihat orang-orang yang hanya memberikan harapan palsu. Kulihat sepasang kekasih yang sedang melihat temanku. Dia hanya termangu. Mungkin sedang berharap juga sepertiku. Tapi sepertinya hari ini adalah hari keberuntungannya. Mereka mengadopsinya! Dia terlihat senang sekali. Aku pun ikut senang untuknya. Kulihat lagi seorang laki-laki muda yang gagah, laki-laki yang pernah kulihat beberapa minggu lalu yang mengadopsi temanku. Aku tidak peduli apa yang ingin dilakukannya disini, karena aku yakin dia tidak ingin mengadopsi salah satu dari kami lagi. Namun aku tertarik pada seseorang gadis manis yang sedang melihat-lihat temanku. Dan tiba-tiba saja pemilikku mengambilku dari balik kaca ini.

"Akhirnya aku keluar!" teriakku senang.
Dia menjajarkan aku dengan 2 temanku yang sedang dilihat gadis itu. Apa dia akan mengadopsi salah satu dari kami? Aku berharap tinggi padanya. Tampilannya menarik dan dia sangat ramah. Aku menyukainya. Jika dia mengadopsiku, dia pasti akan merawatku dengan baik.
Setelah melihat dan menimbang, akhirnya.......  Dia memilihku!
Yeay! Ini hari keberuntunganku. Akhirnya ada yang mengadopsiku setelah 6 bulan berada dibalik kaca yang memuakkan itu.

Tiba di rumahnya, dia mengeluarkanku dari kotak yang melindungiku selama perjalanan. "Terimakasih sudah mengadopsiku. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu," ucapku padanya.
Dia menatapku lekat, lalu tersenyum padaku. Senyum yang manis sekali.
"Akhirnya aku bisa memilikimu. Mulai saat ini, kamu akan menjadi partner kerjaku. Baik-baiklah... Karena aku akan selalu mengandalkanmu," ucap gadis berlesung pipi itu.

Satu tahun sudah aku menjadi miliknya. Benar dugaanku diawal, dia sangat menjagaku dan merawatku dengan baik. Aku nyaman bersamanya, walaupun harus berpanas-panasan atau bahkan kedinginan. Gadis itu seorang travel blogger juga seorang fotografer di sebuah media cetak ternama. Dia selalu mengajakku kemanapun dia pergi. Kami melakukan perjalanan bersama. Mendatangi tempat-tempat baru yang selalu menakjubkan. Berkenalan dengan orang-orang baru yang selalu membuatnya merasa mempunyai keluarga baru. Dan melakukan hal-hal baru yang selalu menyenangkan. Apapun yang dia lakukan, aku selalu turut serta.

Dia seorang pekerja keras. Dia selalu melakukan pekerjaannya dengan baik. Karirnya pun menanjak. Aku sangat senang menjadi bagian dari kesuksesannya.
Kali ini kami akan melakukan perjalanan lagi. Perjalan karirnya yang baru. Dia dipercaya untuk menjadi fotografer pada sesi pemotretan di Paris. Dimana modelnya pun adalah model profesional yang sudah melanglang buana di dunia modeling.
"Wuhuuuu... kita akan ke Paris! Aku akan pergi bersamanya ke kota romantis itu!" seruku senang.
Perjalanan yang panjang. Dia hanya pergi seorang diri. Bersamaku tentunya. Aku selalu merasa istimewa karena dia selalu mengajakku, bahkan saat dia tidak mengajak siapapun bersamanya. Sepertinya perjalanan panjang ini tidak membuatnya lelah. Kedatangan kami di Charles de Gaulle disambut oleh salah satu crew dari media cetak tempatnya bekerja yang berpusat disana.

Sesi pemotretan pertama berlangsung di sebuah menara besi yang dibangun di Champ de Mars di tepi Sungai Seine di Paris. Ya, menara Eiffel. Menara yang menjadi icon kota fashion itu. Bukan hanya dia, aku pun bahagia sekali bisa sampai disini dan berperan penting dalam sesi foto ini.
Lalu pemotretan bergeser ke Notre Dame Cathedral. Gereja ini dianggap sebagai contoh terbaik dari gaya arsitektur gothic Perancis dan merupakan salah satu gereja terpopuler di negara ini. Dan terakhir di Musée du Louvre, adalah bekas istana kerajaan Perancis yang sekarang menjadi salah satu museum terbesar di dunia dan sekaligus monumen bersejarah dan landmark kota Paris.

Tempat-tempat itu sangat menakjubkan! Mereka semua suka dan puas dengan hasil fotonya. Sesi foto hanya dilakukan 1 hari. 6 hari yang tersisa akan dihabiskan di kantor pusat di Paris. Dan tentunya jalan-jalan. Dia tidak akan membuang kesempatan ini untuk mengajakku ke tempat-tempat menakjubkan lainnya di Paris.
Arc de Triomphe atau Gerbang Kemenangan. Adalah salah satu monumen terpopuler di Paris dan merupakan salah satu gapura terbesar dalam sejarah. Kami bertandang kesini selepas dia pulang kantor. Letaknya tidak jauh dari Eiffel, juga hotel tempat kami menetap. Ketika malam tiba, lampu-lampu yang menyorotnya membuatnya semakin gagah. Tentu saja itu juga membuat gadis itu ingin terus memakaiku untuk mengabadikan keindahan menara raksasa itu. Kami juga sempat ke menara Eiffel dan naik keatasnya. Menikmati panorama Paris dengan kerlap kerlip lampu kota dari atas sana. Begitu mengagumkan!

Kembalinya dari Paris, karirnya melejit. Gadis itu lambat laun tumbuh dan terus berkembang menjadi fotografrer profesional dan patut dipertimbangkan. Aku bangga sudah menemaninya selama ini. Melewati suka dan duka bersamanya. Menjadi saksi perjuangannya. 

Aku memang hanya sebuah kamera sederhana, tidak mewah atau berharga mahal. Tapi begitu banyak kenangan yang kami simpan. Entah sudah berapa milyar foto yang kuhasilkan untuknya, dan sudah berapa banyak momen indah yang terekam lensaku. Aku tidak pernah menyesal sedikitpun telah diadopsi olehnya, justru aku sangat beruntung! Aku merasa menjadi kamera paling beruntung di dunia ini. Bukan hanya karena dimiliki oleh seorang fotografer profesional saja. Tapi dimiliki oleh seorang gadis yang luar biasa.

Wednesday, 1 July 2015

Bait untukmu, di harimu

Satu hari yang singkat, menambah detik kehidupan.
Memaksa diri terus berperan.
Dalam dunia dengan segala keruwetan.
Dan dalam mimpi yang terus berangan.

Biarlah hujan menderas,
jika pelangi itu tak akan pudar.
Biarlah teriknya mentari mendera,
jika senja yang akan membuatmu tegar.
Langkah kakimu tak akan pernah terhenti, selama jiwa masih terpatri.
Perjalananmu tak akan berakhir,
Selama waktumu masih bergulir.

-FRD-

28.05.2015

Monday, 22 June 2015

My brain? My brain!!!

Potong aja pala incess, belah aja otak incess... ~(*+﹏+*)~
Tonight, I don't know what happened with my brain! *jambakrambut* ✘Д✘◍
Sampe temen gue nyeletuk, "Gue rasa gesrek lo tambah parah. Buru-buru periksa deh, ntar tambah parah bahaya. Nanti nular lagi."
Dan gue kepikiran buat ke rumah sakit otak. Buat ngencengin sel-sel saraf yang udah kendor.
Karena entah udah bergeser berapa puluh derajat ini otak gue. (ಥ_ಥ)

Cerita berawal dari obrolan ringan di sebuah grup kecil, sampai cerita berakhir pada keluarnya 3 orang dari grup yang berisi 7 tersebut. Dan mereka berspekulasi bahwa saya lah salah satu biang rusuh yang menjadi penyebabnya. Dari hasil investigasi, belum dapat dipastikan apa motif mereka keluar dari grup tersebut. Tapi dari hasil analisis sisa penghuni grup (termasuk saya) kami menyimpulkan bahwa mereka sedang PMS, yang menyebabkan mereka menjadi sensitif dan tidak tahan dengan kegilaan yang ada didalam grup tersebut.
Sampai detik ini, saya masih menjadi salah satu tersangka dalam kasus ini. Dan pihak berwajib masih menyelidiki kasus aneh ini.
Demikian yang dapat saya sampaikan.

What's going on here? *sokpolos* *ditabok*
Atas saran dari temen gue itu, gue mencoba untuk membenahi otak gue yang 'sedikit' gesrek sebelum nular ke temen-temen gue yang masih waras. (๑^ں^๑)

Hikmah yang dapat dipetik dari cerita ini adalah............. Nggak ada •﹏•
Karena ini bukan daun teh yang dipetik dari pucuknya #ApaSih
Intinya, jadilah manusia yang waras agar bisa menjadi manusia seutuhnya. ヽ(^。^)ノ

Note: abaikan cerita ini jika dirasa dapat merusak sistem otak kalian.
Additional note: rusaknya sistem otak tidak ada hubungannya dengan postingan sebelumnya.