Thursday, 21 January 2016

Story Blog Tour: Case Closed!

Belasan tahun silam, kebahagiaan sedang meliputi dua sejoli yang sudah 5 tahun membangun rumah tangga. Bagaimana tidak, kehadiran janin yang selalu diidamkannya kini hadir dalam rahim wanita itu. Kebahagiaan kehadiran calon bayi itu mengalahkan segalanya. Meskipun mereka dalam keadaan ekonomi yang sulit, mereka selalu berjuang untuk calon anak mereka kelak. Bahkan, mereka sudah menyiapkan nama yang cantik untuk calon anak mereka, Bella Anastasya.

Setelah 9 bulan berada dalam rahim wanita muda itu, sang bayi berhasil keluar ke dunia. Tapi sepertinya, takdir berkata lain. Tak ada tangis yang pecah saat bayi itu lahir. Tak ada gerakan aktif dari tangan dan kaki mungilnya. Kebahagiaan itu seketika runtuh. Awan kesedihan pun perlahan datang.

"Coba kalau kamu lebih bisa menahan diri untuk tidak bekerja, mungkin sekarang anak kita masih hidup." Perkataan suaminya itu bagai petir ditengah awan kesedihannya. Perkataan dari seorang calon ayah yang kehilangan harapannya.
"Apa kamu bilang?! Aku juga kerja untuk kita, untuk anak kita. Kamu sendiri kerja ke kota, jarang pulang. Aku harus menanggung semuanya sendiri tanpa kamu. Kalau kamu sedih, aku lebih sedih! Aku ibunya. Aku yang mengandung dan melahirkannya!"

Suaminya yang ia pikir bisa menjadi pelipur lara dan membangkitkan kembali kebahagiaannya, justru malah menjatuhkannya lebih dalam. Lelaki itu tak pernah benar-benar bermaksud menyakiti hati wanita yang amat dicintainya itu. Namun sayang, wanitanya telah tersakiti begitu dalam karena perkataannya. Ditambah, luka lama yang ada sejak ia kecil yang dibuat oleh orang tuanya. Sejak saat itu, kehidupan mereka tak pernah lagi bahagia. Dia hidup bersama dengan kebencian wanitanya yang terus tumbuh padanya.

Pun ketika wanita itu menemukan seorang bayi mungil yang hanya terbungkus kain putih di dekat rumahnya, dan ia memutuskan untuk merawat bayi perempuan itu, kebahagiaan tak pernah benar-benar ada dalam dirinya dan kehidupan mereka. Wanita itu tak mengizinkan lelakinya untuk menyentuh satu-satunya harta yang ia jaga. Ia akan melakukan segala cara untuk melindunginya.

***

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dalam hidup. Tak ada yang tahu juga kebahagiaan yang datang puluhan tahun silam akan berubah menjadi boomerang untuk wanita itu. Rasa sedih dan kecewa yang teramat sangat karena kehilangan, membuatnya begitu membenci lelaki yang pernah dicintainya. Bak bom waktu, segala yang ia pendam selama ini akan meledak suatu saat.

Anastasya, seorang bayi mungil yang kini sudah bermetamorfosis menjadi gadis cantik. Sebuah nama yang pernah dipersiapkan wanita itu untuk calon bayinya. Seorang gadis tangguh yang sanggup bertahan hidup selama 17 tahun dengan seorang psikopat. 

***

Ditya sudah siap mendengar apapun yang akan dikatakan Ana. Tapi hening masih menguasai keduanya, setelah 20 menit mereka berada di perpustakaan ini.

“Ana...." Ditya mencoba memecah keheningan dan membuyarkan lamunan gadis di hadapannya ini. 
"Maaf, Dit. Aku nggak bisa cerita. Aku nggak tahu apa yang harus aku ceriain."
"An, percaya sama aku. Aku akan bantu kamu. Aku nggak tega melihat kamu seperti ini terus. Setelah apa yang aku alami di rumahmu, apa kamu masih mau menutupi semuanya dan memendamnya sendiri?"
Ana luluh dengan tatapan mata Ditya yang menenangkan dan genggaman tangannya yang memberikan rasa aman.
“Sebenarnya aku sendiri nggak tahu apa yang terjadi sama keluargaku, sama Ibu. Sejak aku kecil mereka sering bertengkar, dan Ibu selalu marah pada Ayah. Sampai pada hari itu, mereka bertengkar hebat. Ayah yang selama ini sabar menghadapi Ibu, kali itu tak kuasa menahan amarah. Ayah keluar dari rumah, dan nggak pernah kembali.” Mata Ana mulai basah, suaranya perlahan hilang.
Ditya masih setia mendengarkan tanpa berkomentar apapun. Ana pun berusaha melanjutkan ceritanya.
“Aku nggak pernah berani untuk bertanya apapun pada Ibu, termasuk soal Bella. Bahkan sampai aku sudah sebesar ini. Aku takut menyakiti hati Ibu. Sikap Ibu sering kali aneh dan nggak masuk akal. Aku selalu menilai itu sebagai tekanan akibat pertengkaran mereka yang membuat Ayah pergi. Tapi aku tidak pernah menyangka Ibu tega melakukan itu semua. Dan aku..... nggak ngerti dengan semua ini.” Tangis Ana pecah. Ia tak sanggup lagi untuk melanjutkan ceritanya.
Hatinya terlalu sakit. Otaknya terlalu lelah untuk mencerna semua kejadian yang kini berlalu lalang dalam ingatannya. Hal yang selalu coba ia lakukan sebelum tidur, diiringi dengan senandung yang juga ia dengar tiap malam.

Genggaman tangan Ditya semakin kuat. Dia tahu, gadis ini mengalami tekanan yang sangat dalam. Yang dibutuhkannya saat ini hanya rasa aman dan nyaman. Dan dia ingin memberikan itu pada Ana.

***

Ditya memaksa untuk mengantar Ana pulang, walau gadis itu sudah menolaknya. Karena dia tidak tahu, apa yang akan terjadi lagi pada Ana, dan apa yang akan ibunya lakukan padanya setelah apa yang terjadi kemarin. Ditya hanya ingin memastikan Ana aman.
Baru saja Ana membuka pintu rumahnya, ia dikagetkan dengan ibunya yang tiba-tiba saja berdiri di balik pintu.
“Kamu pulang tepat waktu, Nak,” sapa Ibu dengan senyum diwajahnya.
“I-iya, Bu,” jawab Ana tergagap.
Senyum Ibu pudar seketika ketika melihat siapa yang berada di belakang Ana.
Ana menoleh. Ternyata Ditya masih berdiri di depan rumahnya.
Tatapan tajam mata Ibu membuatnya bergidik. Ana mundur satu langkah. Tapi Ibu dengan sigap mencengkeram tangan Ana.
Ana berteriak sekeras yang ia bisa. Wanita paruh baya itu bukanlah lagi sosok Ibu yang Ana kenal, wanita yang selalu memberikan rasa sayang dan perhatian melimpah padanya. Ibu menarik tangan Ana, membawanya menuju pintu belakang. Ditya berusaha mengejar mereka. Ibu masih mencengkeram erat tangan Ana, tak peduli dia meronta kesakitan. Sampai berada kamar ini, Ibu baru melepaskannya.
Ya, kamar di rumah tua.

Ana dan Ditya tercengang melihat apa yang ada disini. Ingin rasanya Ana berteriak, tapi ia sudah tidak sanggup. Suaranya sudah habis.
Tubuh ayah, boneka Bella, dan banyak benda-benda berserakan di kamar ini. Juga sebuah foto yang memamerkan kemesraan Ayah dan Ibu, namun terdapat tanda silang tepat di atas tubuh Ayah.
“Ana... Maafkan Ibu, Nak. Banyak hal yang Ibu sembunyikan darimu.” Ibu mengambil sebilah pisau yang tergeletak di lantai.
“Ibu menyayangimu, Ana. Dan Ibu juga menyayangi mereka.....”
Mata Ana mengikuti ujung pisau yang Ibu arahkan ke tubuh Ayah dan boneka Bella. Ana yang tersungkur di lantai tak bisa lagi berkata. Hanya air mata yang terus mengalir seakan tak ada habisnya. Bahkan saat ibunya perlahan mendekatinya dengan sebilah pisau di tangan kanannya, ia hanya bisa diam.
“Dan kini, Ibu tak mau lagi membuatmu menderita......” ucap Ibu seraya membelai lembut rambutnya. Ana sudah pasrah, jika memang ia harus mati di tangan ibunya.
Ibu berbalik, berjalan kearah tubuh Ayah dan boneka Bella.
“Ibu yakin kamu sudah dewasa. Jalani lah hidupmu sendiri.” Ibu lalu memeluk tubuh Ayah dengan tangan kirinya, dan menggenggam boneka Bella di tangan kanannya.
“Ibu ingin pulang, Nak. Bersama Ayah dan anak Ibu, Bella.” Dengan cepat Ibu menghunuskan pisau tepat di dada kirinya.

“Ibu...........”
Ana hanya bisa berbisik lirih melihat apa yang terjadi di hadapannya. Ia berusaha mendekati ibunya, namun raganya terlalu lemah. Ditya yang sedari tadi terpaku di belakang Ana, dengan cekatan merangkulnya.

“Ini semua sudah berakhir, An. Aku disini, untukmu.” Bisikan Ditya membuat air mata Ana semakin deras. Ditya merangkulnya lebih erat. Membiarkan gadis itu menumpahkan segala beban yang ada. Mencoba meyakinkan Ana bahwa ia akan selalu ada untuknya.

***

“Flower in my hair...”
“Demons in my head...”
“Madness in my mind...”
“Darkness in my soul...”
“And storm in my heart...”

Senandung abadi yang tak akan pernah mati.
Kekuatan jiwa yang terpatri di hati.



THE END-

___________________________________________________

Note:
Tulisan ini adalah Challenge menulis STORY BLOG TOUR dari komunitas OWOP (One Week One Paper). Di mana member lain yang sudah diberi urutan absen melanjutkan sesuai imajinasinya di blog pribadinya.
Aku ditakdirkan untuk menjadi penutup cerita STORY BLOG TOUR ini..
Kalo kalian mau baca ceritanya dari awal, silahkan intip blog dibawah ini ^^



Wednesday, 30 December 2015

Keakuanku, pada sebuah rasa.

Aku sudah terbiasa denganmu.
Dan satu hal yang tak bisa kubantah: aku betah berada di dekatmu!
Alunan nada yang tercipta
Menyiratkan rona semu yang seketika hadir.
Aku tak pernah berpikir rasa ini ada
Tak pernah terpikir juga kamu akan menjadi salah satu alasan bahagiaku.
Semua berjalan tanpa rekayasa.
Seperti ketika rasa ini mengetuk pintu hati, tanpa tanda tanya, tanpa syarat.
Menyesakkan.
Ketika bayangmu hilang dan memaksaku diam.
Maaf atas setiap silap kata yang kuucap.
Maaf atas setiap salah sikap yang kuperbuat.
Aku tidak akan pernah menjadi yang terbaik.
Tapi selalu berusaha menjadi lebih baik.
Dan kini, aku ingin meyakini, hatiku masih terpaut padamu.
Aku harus menyerah pada keakuanku.
Jadi, izinkan aku menyimpannya.
Menetapkan rasa yang tak ingin kamu tahu.
Biarkan aku mempedulikanmu, tanpa merasa menjadi yang paling peduli.
Biarkan aku menyayangimu, tanpa merasa menjadi yang paling tulus.
Hingga ia menjelma menjadi sebuah cinta.
Karena cinta tidak butuh alasan, bukan?

-FRD-

Friday, 18 December 2015

Rindu, rasa, dan cinta

Ketika sekeping rindu hadir
Hanya berharap tatap
Yang mungkin cukup untuk mengobati sakit karena menahannya

Ketika sebongkah rasa tercipta
Hanya berharap dekap hangat
Yang mungkin cukup untuk menguatkan saat diri lemah karenanya

Dan ketika setitik cinta tersirat
Hanya dapat berpilin doa
Yang mungkin dapat menjaganya
Hingga Tuhan berkenan menyuratkannya

-FRD-
18.12.15

Sunday, 15 November 2015

Tanpa titik

Ini caraku berteman denganmu,
Menjadi pendengar setia atas kisah dan keluh kesahmu
Menjadi pelukis senyum ketika muram menghampirimu
Menjadi pendorong semangatmu saat lelah singgah padamu

Ini caraku peduli padamu,
Mengingatkan hal-hal kecil yang sering kali kamu lupa
Memperhatikan hal-hal kecil yang sering kali kamu lewatkan
Menegurmu atas kesalahan kecil yang kamu lakukan

Ini caraku menyayangimu,
Menyelipkan semua tentangmu diantara percakapanku dengan Sang Pemilik Hati

Dan ini, caraku mencintaimu
Tanpa tanda tanya, tanpa titik

-FRD-
15.11.15

Thursday, 3 September 2015

[FlashFiction] Harapan Baru

Tempat ini asing bagiku. Tiba-tiba saja aku terbangun di tempat yang sama sekali tidak aku tahu. Aku linglung, kebingungan. Hanya hamparan rerumputan yg aku lihat sepanjang mata memandang.
Aku mencoba berdiri, menuju sisi jalan yang terlihat memberiku harapan. Harapan untuk pulang. Kutelusuri jalan setapak ini. Seperti tak berujung. Beberapa kali lelah menghampiri dan pandangan mata sudah jemu melihat gurun hijau ini.
Ketika aku terpekur ditengah perjalanan, tiba-tiba mataku menangkap beberapa warna putih diujung jalan sana. Dan.... Sebuah kotak berwarna merah. Aku memicingkan mata dan bergerak maju kearahnya. Untuk memastikan bahwa yang kulihat adalah harapan baru, bukan sekedar oase.

"T-E-L-E-P-H-O-N-E." Aku mengeja tulisan diatas kotak itu yang membuat senyumku langsung terkembang.
Aku masuk kedalamnya untuk memastikan masih berfungsi atau tidak. Sebuah telepon tua bertengger disana. Aku merogoh kantung celanaku yang kotor. Berharap menemukan sebuah koin disana.
Kumasukan koin itu dan kuputar nomer yang sangat kuhafal.
"Halo... " sapa seseorang diseberang.
"Aku ingin pulang," ucapku lirih.
Tidak ada balasan darinya.
"Tolong beri aku satu kesempatan lagi. Izinkan aku pulang," lanjutku.
"Tidak, Mas. Tidak ada lagi tempatmu untuk pulang."
"Tidak bisakah kamu memaafkan aku dan beri aku satu kesempatan lagi? Aku benar-benar menyesal. Aku berjanji akan berubah. Saat ini aku hanya ingin pulang, bertemu denganmu. Aku tidak ingin kehilanganmu."
Hanya terdengar isak dari seberang sana.
Aku menundukkan kepala. Menunggunya bersuara. Aku hanya bisa berharap, ada harapan baru dari seberang sana.
Mataku pun mulai basah mendengar isak tangisnya yang semakin menjadi.
"Kembalilah, Mas. Aku menunggumu pulang," jawabnya lirih.
Senyumku pun terkembang. Di dalam kotak merah ini kutemukan harapan baru.

-FRD-
04.08.2015

[Fiction] Twinny

"Punya saudara kembar seru kali, ya. Sesekali bisa tukeran posisi tanpa orang tahu. Tapi lo pasti nggak bisa gitu kan, Sha?" celetuk temanku suatu waktu. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Tidak ingin membuyarkan khayalannya untuk mempunyai saudara kembar.
"Sha, ayo pulang." Dan laki-laki itu baru saja membuyarkan khayalan teman disebelahku ini.
Setelah berpamitan dengannya, aku melenggang pergi dengan motor sport yang dikendarai laki-laki itu.

Dia, laki-laki popoler yang menjadi idaman para wanita di kampus. Aku, wanita yang membuat iri wanita lain karena aku bisa dekat dengannya. Kami sudah dekat dan selalu bersama sejak kami belum dilahirkan.
Ya, kami adalah saudara kembar. Tapi aku tidak pernah merasa mempunyainya.
Ezra, saudara kembarku itu lahir dua menit lebih awal sebelum aku lahir. Kami bukan kembar identik, dan jenis kelamin kami juga berbeda. Sejak kecil pun orang tua kami tidak memperlakukan kami seperti anak kembar yang apa-apa harus sama. Itulah sebabnya aku berkata begitu.

Hanya segelintir teman-teman kampus yang tahu kami kembar. Bukan kami bermaksud menutupi identitas kami. Hanya saja kami malas mengumumkan kalau kami ini kembar. Aku dan Ezra berbeda fakultas. Makanya kami jarang terlihat bersama di kampus. Ezra yang seorang ketua BEM dan penyiar radio kampus, membuat siapa saja wanita yang dekat dengannya akan menjadi perhatian. Jika dia sedang sendiri, dia pasti akan pergi denganku.

Aku hanya akan memberitahu tentang kami jika ada yang bertanya padaku seperti ini, "Kalo diperhatiin, lo mirip deh sama Ezra, kalian kembar, ya?" Itu artinya dia orang yang peka.
Atau jika ada yang bertanya pada Ezra seperti ini, "Lo sama Eisha kayak anak kembar. Mirip tahu! Apa karena kalian sering jalan bareng?" Nah, biasanya yang bertanya begitu adalah wanita yang iri denganku. Sisanya, akan berkata seperti ini, "Kalian mirip deh, jangan-jangan kalian berjodoh (?)" Kalau itu hanya menjadi bahan tertawaan kami saja.

Ya, kami memang jarang memakai baju yang sama, tidak mempunyai barang-barang yang sama, dan tidak bisa bertukar posisi tanpa orang tahu seperti yang dikhayalkan temanku itu. Tapi kami bahagia karena saling mengerti tanpa harus berkata.
Kami bahagia karena saling memahami tanpa harus bercerita.
Dan kami bahagia karena saling memiliki.

-FRD-

Tuesday, 18 August 2015

Kombinasi sempurna

Aku tidak pernah menyukai aroma itu.
Aroma uap yang mengepul dari segelas kopi yang tersaji di mejamu.
Manis. Renyah.
Juga aroma tanah basah yang tercium saat gerimis tiba-tiba turun.
Aroma yang kamu sukai.

Aku tidak pernah menyukai rasa itu.
Berbagai macam rasa yang hadir dalam tegukan pertamamu.
Manis, katamu.
Dan tentu saja pahit yang tidak bisa terelakkan.
Juga rasa senang saat kamu membiarkan gerimis membasahimu.
Menenangkan, katamu.
Dan tentu saja gelisah yang juga mampir.

Hujan dan kopi.
Kombinasi sempurna kebahagiaan, bagimu.
Kombinasi sempurna sebuah elegi, bagiku.

Aku bukan pecinta hujan, juga bukan penikmat kopi.
Aku memang tidak pernah menyukai aroma dan rasa itu.
Tapi aku, pernah meyukaimu.

-FRD- 

Monday, 13 July 2015

Elegi sunyi

Rasanya enggan untuk berjalan lagi
Walau hanya sekedar bayang yang akan sirna
Rasanya malas untuk menetap lebih lama lagi
Walau raga yang bersua tanpa jiwa

Menatap langkahnya yang tegap
Berlalu dengan cepat
Menempuh jalannya yang panjang
Hanya kosong yang tersisa

Mentari yang bersinar akan tetap sama
Dan senja yang mengerling pun akan tetap sama

Kamu? akan terus terbang dengan sayapmu
Menembus langit yang tak terbatas
Sedang aku? setengah mati berjuang dengan kedua tanganku
Mengoyak tanah yang semakin keras

-FRD-

Saturday, 4 July 2015

[FlashFiction] I'm the lucky one

Aku bosan disini. Hanya diam dibalik kaca, diantara teman-temanku yang juga hanya bisa diam. Banyak manusia yang lalu lalang, tapi mereka hanya melihatku saja. Setiap mereka menatapku, aku selalu berteriak "adopsi aku!" tapi kurasa mereka tidak mendengarnya. Aku selalu senang jika ada yang melihatku dengan mata yang berbinar, seakan ingin mengadopsiku. Tapi mereka segera berlalu begitu saja.

Hari ini seperti biasa, melihat orang-orang yang hanya memberikan harapan palsu. Kulihat sepasang kekasih yang sedang melihat temanku. Dia hanya termangu. Mungkin sedang berharap juga sepertiku. Tapi sepertinya hari ini adalah hari keberuntungannya. Mereka mengadopsinya! Dia terlihat senang sekali. Aku pun ikut senang untuknya. Kulihat lagi seorang laki-laki muda yang gagah, laki-laki yang pernah kulihat beberapa minggu lalu yang mengadopsi temanku. Aku tidak peduli apa yang ingin dilakukannya disini, karena aku yakin dia tidak ingin mengadopsi salah satu dari kami lagi. Namun aku tertarik pada seseorang gadis manis yang sedang melihat-lihat temanku. Dan tiba-tiba saja pemilikku mengambilku dari balik kaca ini.

"Akhirnya aku keluar!" teriakku senang.
Dia menjajarkan aku dengan 2 temanku yang sedang dilihat gadis itu. Apa dia akan mengadopsi salah satu dari kami? Aku berharap tinggi padanya. Tampilannya menarik dan dia sangat ramah. Aku menyukainya. Jika dia mengadopsiku, dia pasti akan merawatku dengan baik.
Setelah melihat dan menimbang, akhirnya.......  Dia memilihku!
Yeay! Ini hari keberuntunganku. Akhirnya ada yang mengadopsiku setelah 6 bulan berada dibalik kaca yang memuakkan itu.

Tiba di rumahnya, dia mengeluarkanku dari kotak yang melindungiku selama perjalanan. "Terimakasih sudah mengadopsiku. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu," ucapku padanya.
Dia menatapku lekat, lalu tersenyum padaku. Senyum yang manis sekali.
"Akhirnya aku bisa memilikimu. Mulai saat ini, kamu akan menjadi partner kerjaku. Baik-baiklah... Karena aku akan selalu mengandalkanmu," ucap gadis berlesung pipi itu.

Satu tahun sudah aku menjadi miliknya. Benar dugaanku diawal, dia sangat menjagaku dan merawatku dengan baik. Aku nyaman bersamanya, walaupun harus berpanas-panasan atau bahkan kedinginan. Gadis itu seorang travel blogger juga seorang fotografer di sebuah media cetak ternama. Dia selalu mengajakku kemanapun dia pergi. Kami melakukan perjalanan bersama. Mendatangi tempat-tempat baru yang selalu menakjubkan. Berkenalan dengan orang-orang baru yang selalu membuatnya merasa mempunyai keluarga baru. Dan melakukan hal-hal baru yang selalu menyenangkan. Apapun yang dia lakukan, aku selalu turut serta.

Dia seorang pekerja keras. Dia selalu melakukan pekerjaannya dengan baik. Karirnya pun menanjak. Aku sangat senang menjadi bagian dari kesuksesannya.
Kali ini kami akan melakukan perjalanan lagi. Perjalan karirnya yang baru. Dia dipercaya untuk menjadi fotografer pada sesi pemotretan di Paris. Dimana modelnya pun adalah model profesional yang sudah melanglang buana di dunia modeling.
"Wuhuuuu... kita akan ke Paris! Aku akan pergi bersamanya ke kota romantis itu!" seruku senang.
Perjalanan yang panjang. Dia hanya pergi seorang diri. Bersamaku tentunya. Aku selalu merasa istimewa karena dia selalu mengajakku, bahkan saat dia tidak mengajak siapapun bersamanya. Sepertinya perjalanan panjang ini tidak membuatnya lelah. Kedatangan kami di Charles de Gaulle disambut oleh salah satu crew dari media cetak tempatnya bekerja yang berpusat disana.

Sesi pemotretan pertama berlangsung di sebuah menara besi yang dibangun di Champ de Mars di tepi Sungai Seine di Paris. Ya, menara Eiffel. Menara yang menjadi icon kota fashion itu. Bukan hanya dia, aku pun bahagia sekali bisa sampai disini dan berperan penting dalam sesi foto ini.
Lalu pemotretan bergeser ke Notre Dame Cathedral. Gereja ini dianggap sebagai contoh terbaik dari gaya arsitektur gothic Perancis dan merupakan salah satu gereja terpopuler di negara ini. Dan terakhir di Musée du Louvre, adalah bekas istana kerajaan Perancis yang sekarang menjadi salah satu museum terbesar di dunia dan sekaligus monumen bersejarah dan landmark kota Paris.

Tempat-tempat itu sangat menakjubkan! Mereka semua suka dan puas dengan hasil fotonya. Sesi foto hanya dilakukan 1 hari. 6 hari yang tersisa akan dihabiskan di kantor pusat di Paris. Dan tentunya jalan-jalan. Dia tidak akan membuang kesempatan ini untuk mengajakku ke tempat-tempat menakjubkan lainnya di Paris.
Arc de Triomphe atau Gerbang Kemenangan. Adalah salah satu monumen terpopuler di Paris dan merupakan salah satu gapura terbesar dalam sejarah. Kami bertandang kesini selepas dia pulang kantor. Letaknya tidak jauh dari Eiffel, juga hotel tempat kami menetap. Ketika malam tiba, lampu-lampu yang menyorotnya membuatnya semakin gagah. Tentu saja itu juga membuat gadis itu ingin terus memakaiku untuk mengabadikan keindahan menara raksasa itu. Kami juga sempat ke menara Eiffel dan naik keatasnya. Menikmati panorama Paris dengan kerlap kerlip lampu kota dari atas sana. Begitu mengagumkan!

Kembalinya dari Paris, karirnya melejit. Gadis itu lambat laun tumbuh dan terus berkembang menjadi fotografrer profesional dan patut dipertimbangkan. Aku bangga sudah menemaninya selama ini. Melewati suka dan duka bersamanya. Menjadi saksi perjuangannya. 

Aku memang hanya sebuah kamera sederhana, tidak mewah atau berharga mahal. Tapi begitu banyak kenangan yang kami simpan. Entah sudah berapa milyar foto yang kuhasilkan untuknya, dan sudah berapa banyak momen indah yang terekam lensaku. Aku tidak pernah menyesal sedikitpun telah diadopsi olehnya, justru aku sangat beruntung! Aku merasa menjadi kamera paling beruntung di dunia ini. Bukan hanya karena dimiliki oleh seorang fotografer profesional saja. Tapi dimiliki oleh seorang gadis yang luar biasa.

Wednesday, 1 July 2015

Bait untukmu, di harimu

Satu hari yang singkat, menambah detik kehidupan.
Memaksa diri terus berperan.
Dalam dunia dengan segala keruwetan.
Dan dalam mimpi yang terus berangan.

Biarlah hujan menderas,
jika pelangi itu tak akan pudar.
Biarlah teriknya mentari mendera,
jika senja yang akan membuatmu tegar.
Langkah kakimu tak akan pernah terhenti, selama jiwa masih terpatri.
Perjalananmu tak akan berakhir,
Selama waktumu masih bergulir.

-FRD-

28.05.2015

Monday, 22 June 2015

My brain? My brain!!!

Potong aja pala incess, belah aja otak incess... ~(*+﹏+*)~
Tonight, I don't know what happened with my brain! *jambakrambut* ✘Д✘◍
Sampe temen gue nyeletuk, "Gue rasa gesrek lo tambah parah. Buru-buru periksa deh, ntar tambah parah bahaya. Nanti nular lagi."
Dan gue kepikiran buat ke rumah sakit otak. Buat ngencengin sel-sel saraf yang udah kendor.
Karena entah udah bergeser berapa puluh derajat ini otak gue. (ಥ_ಥ)

Cerita berawal dari obrolan ringan di sebuah grup kecil, sampai cerita berakhir pada keluarnya 3 orang dari grup yang berisi 7 tersebut. Dan mereka berspekulasi bahwa saya lah salah satu biang rusuh yang menjadi penyebabnya. Dari hasil investigasi, belum dapat dipastikan apa motif mereka keluar dari grup tersebut. Tapi dari hasil analisis sisa penghuni grup (termasuk saya) kami menyimpulkan bahwa mereka sedang PMS, yang menyebabkan mereka menjadi sensitif dan tidak tahan dengan kegilaan yang ada didalam grup tersebut.
Sampai detik ini, saya masih menjadi salah satu tersangka dalam kasus ini. Dan pihak berwajib masih menyelidiki kasus aneh ini.
Demikian yang dapat saya sampaikan.

What's going on here? *sokpolos* *ditabok*
Atas saran dari temen gue itu, gue mencoba untuk membenahi otak gue yang 'sedikit' gesrek sebelum nular ke temen-temen gue yang masih waras. (๑^ں^๑)

Hikmah yang dapat dipetik dari cerita ini adalah............. Nggak ada •﹏•
Karena ini bukan daun teh yang dipetik dari pucuknya #ApaSih
Intinya, jadilah manusia yang waras agar bisa menjadi manusia seutuhnya. ヽ(^。^)ノ

Note: abaikan cerita ini jika dirasa dapat merusak sistem otak kalian.
Additional note: rusaknya sistem otak tidak ada hubungannya dengan postingan sebelumnya. 

Sunday, 21 June 2015

Kamu? Alien.

Sesaat singgah, seketika pergi.
Tiba-tiba datang, kemudian melenggang lagi.
Hanya menitipkan sebongkah rasa, lalu membawanya kembali.

Apa maumu? Selalu saja begitu.
Tanpa sadar, melantunkan simfoni indah yang mengandung sendu,
melukiskan emosi yang berujung pilu,
menebar senyum yang hadirkan pilu.

Kamu? Alien.
Entah datang dari mana, tapi tiba-tiba saja merusak sistem otak.
Yang kini tak dapat bekerja dengan normal,
saat apapun tentangmu masuk kedalamnya.

Kamu? Alien.
Makhluk asing yang tidak jelas bentuknya.
Tapi mampu hadirkan rasa yang juga tak jelas bentuknya.

-FRD-

Thursday, 11 June 2015

Rindu yang berjarak

Detik demi detik terus terlewati. Bergulir menjadi menit, sampai terangkum menjadi jam.
Jarum jam itu terus berputar.
Tapi anehnya, waktu tidak pernah berputar.
Ia akan terus melaju ke masa yang belum ku ketahui.
Sekelebat bayangmu tiba-tiba saja melintas di pikiranku.
Jarak yang terbentang jauh, waktu yang telah lama berlalu.
Menghadirkan sebongkah rindu.

Angkuh kah diriku jika mengharapkanmu segera disini?
Egois kah aku jika aku ingin memeluk bayangmu saat ini juga?

Aku tidak bisa pergi.
Rinduku sudah berjarak.
Hanya menanti waktu yang mendekat.
Menggiring jiwamu menujuku.

-FRD-

Tuesday, 9 June 2015

Pelangi kelabu

last time, I listened to my friend's story 'bout his broken heart. He was very upset, dissapointed, sad, down, and another bad feelings. This is the first time he fell.


Cinta itu abstrak, masalah yang timbul karena cinta itu sendiri juga masalah yang abstrak. Tidak bisa dijelaskan, tapi ingin diselesaikan. Rasa sakit dan kecewa seperti sudah menjadi bagian dari cinta. Saat rasa yang dulu pernah menjadi alasanmu untuk tersenyum, ketika dia yang menjadi alasanmu itu pergi, itulah saatnya dia juga yang menjadi alasanmu bersedih. Mungkin rasanya duniamu hancur, semangatmu hilang, dan sebagian pondasi hatimu yang dulu pernah kamu bangun bersamanya mulai runtuh. Ingin rasanya kamu melupakannya segera. Berharap secepatnya dia hilang dari ingatanmu. Hei, kamu ngga akan pernah bisa melupakan orang yang pernah melukis pelangi di hatimu. Mencoba merubahnya menjadi warna hitam? Ngga akan bisa. Warna pelangi ngga akan berubah. Warna pelangi hanya akan memudar, kemudian menghilang. Sadar ngga kalo apa yang kamu lakukan saat ini membuat warnanya menjadi kelabu? Menyendiri, meratapi dia yang pergi darimu, mengingat kembali kenangan-kenangan dia bersamamu. Tanpa sadar kamu membuat pelangi itu menjadi abu-abu.
Kepergiannya bukan karena tanpa alasan. Sejuta alasan bisa membuatnya pergi darimu. Kejenuhan dalam suatu hubungan, perbedaan pendapat, orangtua yang tidak merestui, dan alasan-alasan lainnya. Intinya, Allah tidak mengizinkanmu untuk bersamanya saat ini. Kalo dia pergi karena kamu ngga bisa meyakinkan dia, apa kamu bisa meyakinkan diri kamu sendiri? Meyakinkan kalo kamu bisa melewati ini semua, melawan rasa sakitmu. Namanya juga “jatuh cinta”. Jadi, cinta dan jatuh itu satu paket, bukan? Saat dulu kamu merasakan cintanya, mungkin ini saatnya kamu merasakan jatuhnya. Jatuh itu memang sakit, banyak luka yang diterima. So, nikmati aja dulu rasa jatuhnya dan semua lukanya. Masa cuma mau merasakan cintanya.. hehe.. Gimana cara nikmatinya? Ya nikmati aja dengan semua rasa sakit yang ada, dengan semua kekecewaan yang singgah, sampai waktu menghapusnya perlahan, sampai lukamu kering perlahan.
Waktu mengajari kita banyak hal. Mengajarkan arti kesabaran, ketulusan, juga keikhlasan. Yang mungkin saat ini, kita sendiri ngga yakin apa kita bisa atau engga. Tapi yakinlah, waktu akan mengajarinya perlahan. Dengan proses yang mungkin berat, dengan jalan yang mungkin terjal dan berbatu, yang sulit untuk kita lalui.
Menangislah sampai airmatamu kering, kalo kamu rasa itu perlu. Berteriaklah sekencangnya sampai suaramu habis, kalo kamu rasa itu perlu. Dan berhentilah ketika kamu rasa itu cukup. Lalu bercermin. Pantaskah kita melakukan itu? Kita hanyalah lakon yang siap memerankan semua yang sudah diskenariokan. Allah yang hadirkan rasa cinta, dan Allah pula yang hadirkan sakit itu. Apakah kita sudah menjadi aktor yang baik dihadapan-Nya? Allah hadirkan sakit itu agar kita bisa belajar. Apakah kita sudah memantaskan diri untuk mendampinginya?


Rasa sakit itu akan terus ada selama kamu mengizinkannya. Luka itu tidak akan mengering selama kamu membiarkannya tinggal. Bangun kembali pondasi hatimu yang runtuh itu dengan semua rasa sakit, luka dan kekecewaan yang kamu rasa. Bangun sebaik mungkin sampai menjadi pondasi yang kuat. Dan ketika selama proses penyembuhan ini rasa sakit itu hadir kembali, kamu tahu harus bagaimana.
Tetaplah cintai dia selama kamu ingin. Cintai dia dengan cara yang lain; selipkan namanya disetiap perbincanganmu dengan Rabb-mu. Tapi jangan pernah berusaha melupakan, karena kamu ngga akan pernah bisa. Biarkan semua kenangan itu memudar bersama pelangi itu dan hapuslah warna kelabu yang kamu buat. Jika namanya yang tertulis untukmu, dia akan kembali mencerahkan warna pelangimu. Namun jika bukan, akan ada seseorang yang memberikan warna baru di pelangimu.

Friday, 5 June 2015

It's (not) a piece of cake!

Some of you will say that writing is easy. Or maybe some of you will also say that writing is difficult.
But I think, writing is (not) a piece of cake!
Why do I write 'not' in the bracket? I'm not sure. Hahaa..
Maybe depand on the condition.

Intinya, nulis itu gampang-gampang susah. Gampang kalo lagi banyak ide di otak yang siap dituang ke laptop. Susah kalo lagi nggak ada ide yang mampir ke otak. Apa yang mau dituang??
Tapi inget yah. Ide itu DIBUAT, bukan DICARI.
Kalo kita kreatif, apapun yang kita lihat, kita rasa, kita dengar, pasti akan jadi ide.
Jadi ya kenapa 'not' itu ada didalam kurung? Jawabannya tergantung situasi. Hahhaa..
Ada pepatah bilang "Practice makes perfect". Is it right? I think yes.

Melalui program mentoring yang gue ikuti selama sebulan itu membuktikannya. Setiap hari gue harus nulis minimal 2 halaman yang kemudian disetor ke mentor gue untuk dikomentari.
Selama sebulan itu, gue harus 'memaksa' otak gue untuk memproduksi ide sebanyak-banyaknya.
Mungkin sebulan kemaren gue jahat sama otak gue. Karena nyuruh otak gue buat kerja keras.
But I'm sure, kerja keras tidak akan mengkhianati. ^^

If you do what you love, you'll do it passionately, will you?
That's what I do. Because of writing is my passion, I do it with all my heart, with all the risk.
So I will say: Writing is (not) a piece of cake! ^^

Dandelion



Sekilas, tidak ada yang istimewa dari bunga ini.
Dia sangat sederhana, sering tidak terlihat karena tertutup ilalang, sering terabaikan karena bentuknya yang kecil.
Dia juga sangat rapuh, dia menerima dengan rela jika angin membawanya pergi jauh, terbang mengangkasa. Menuju tempat asing, atau bahkan tempat yang tidak diinginkannya. Memaksa dirinya untuk membuat kehidupan baru dimanapun ia jatuh.
Tapi bunga ini mempunyai keistimewaannya tersendiri.
Dari kerapuhannya, dia berjuang sendiri melawan teriknya matahari, kencangnya hembusan angin, dan derasnya hujan yang menghujam dirinya.
Membiarkan dirinya terbang membawa harapan baru, saat singgah di tempat yang baru.
Lalu menunggu orang-orang tersenyum atas kehadirannya.
Dan dia akan kembali berjuang, lalu terbang dengan harapan yang lain, ke tempat yang lain. Begitu seterusnya.

Cobalah melihat dari sisi lain, maka suatu saat kamu akan mengerti.
Dandelion akan selalu indah. Hanya bagaimana caramu memandangnya. ☺

-FRD-

Musim yang panjang

Musim ini menjadi kemarau yang panjang.
Kering, gersang, dan daun-daun yang meranggas.
Sedih dan amarah pun menjadi perasaan yang dominan.
Kegundahan yang menyayat hati, kelesuan yang merobek batin,
dan ego yang membelah otak menjadi kepingan-kepingan kecil.
Walaupun hujan terkadang muncul, namun seketika menghilang lagi.
Tawa riang yang kerap menghiasi musim ini, sedikit menutupi gundah yang kian menjadi.

Musim ini akan menjadi musim yang panjang.
Sepanjang jalan, daun-daun yang gugur dari tangkainya pun menjadi pemandangan biasa.
Wajah-wajah murung tak luput dari pandangan.
Jiwa-jiwa yang haus pun berserakan.

Benar, musim ini adalah musin yang panjang.
Semangat yang membara pun mulai padam.
Cahaya yang benderang pun mulai redup.
Saat sunyi menjadi kawan setia dari jiwa yang kosong dan tak lagi berharap.

Tapi, hei, tataplah langit.
Musim ini akan berakhir.
Bunga-bunga indah akan bermekaran.
Wajah-wajah sumringah penuh senyum pun akan segera terlihat.
Cahaya akan kembali benderang, semangat akan kembali membara.
Keceriaan dan harapan akan segera tiba.

Ini hanyalah musim yang panjang,
Tapi akan segera berakhir.

-FRD-

Thursday, 4 June 2015

My 2nd blog! (for OWOP)

Yeah, this is my second blog. I have a blog before, but that's my private blog.
Private blog? for what? Just for write my private idea, memory, etc. Like a diary. Haha..

Actually, I don't really like blogging. But I make this second blog for keep my writing. (Alibi) XD
No, actually I make it because of OWOP. ^^
I'm sure you don't know what is OWOP. Ok, I'll tell you.

OWOP is One Week One Paper, a group of Whatsapp which I join one month ago.
A great group, containing amazing writer! From amateur writer like me until professional writer.

And start from now, I'll keep blogging to show my writing consistency ^^